

Dibeberapa artikel atau tulisan yang saya temukan, dinamika pendidikan dikaitkan dengan kata pembaharuan, dinamika bisa juga diartikan sebagai perubahan yang berjalan. Pada situasi saat ini kita bisa melihat perubahannya, melalui media televisi contohnya adalah pendidikan di Indonesia, dimana hanya orang berada yang dapat mengenyam pendidikan hingga jenjang yang paling tinggi, sedangkan orang dari kalangan bawah hanya bisa melihatnya pasrah dengan perasaan sedih, karena mereka tidak dapat mengenyam pendidikan hingga jenjang yang paling tinggi. Padahal banyak sekali
anak-anak dari kalangan bawah yang pandai dan cerdas, mungkin tingkat intelektual mereka bisa melebihi orang-orang berada. Namun dengan keterbatasan biaya, mereka tidak bisa mengembangkan apa yang mereka miliki, hingga mereka harus putus sekolah hanya karena soal biaya, dan lebih memilih untuk membantu keuangan orang tua, seharusnya sebagai seorang anak mereka belajar dengan baik dan menggapai impian mereka, bukan mencari nafkah seperti yang sering kita lihat saat ini. Atau dapat dilihat dari perbedaan ruangan yang mereka gunakan untuk belajar, antara kalangan bawah dengan kalangan berada. Dalam dinamika globalisasi, masalah pendidikan pada hakekatnya merupakan usaha sadar manusia memberikan layanan sosial kepada masyarakat, sehingga memiliki kematangan, kedewasaan dan kecakapan hidup, baik dalam konteks aktualisasi diri maupun relasi dengan sesama warga negaranya. Anak-anak bangsa tercecer dalam berbagai sekolah yang
beragam menurut latar belakang sosio ekonomi yang berbeda. Negara belum
mampu memberikan kesempatan yang adil bagi semua anak bangsa untuk
mendapatkan pendidikan yang bermutu. Sampai saat ini, belum tampak
adanya pembenahan yang signifikan dan terpadu untuk meningkatkan mutu
pendidikan di Indonesia, dari tingkat pendidikan dasar sampai dengan
tingkat pendidikan tinggi. Muncul pertanyaan besar: "Ke mana arah
pendidikan di Indonesia?" Pendidikan dimaksudkan sebagai mempersiapkan
anak-anak bangsa untuk menghadapi masa depan dan menjadikan bangsa ini
bermartabat di antara bangsa-bangsa lain di dunia. Masa depan yang
selalu berkembang menuntut pendidikan untuk selalu menyesuaikan diri dan
menjadi lokomotif dari proses demokratisasi dan pembangunan bangsa.
Pendidikan membentuk masa depan bangsa. Akan tetapi, pendidikan yang
masih menjadi budak sistem politik masa kini telah kehilangan jiwa dan
kekuatan untuk memastikan reformasi bangsa sudah berjalan sesuai dengan
tujuan dan berada pada rel yang tepat. Dalam konteks globalisasi,
pendidikan di Indonesia perlu membiasakan anak-anak untuk memahami
eksistensi bangsa dalam kaitan dengan eksistensi bangsa-bangsa lain dan
segala persoalan dunia. Pendidikan nasional perlu mempertimbangkan bukan
hanya {state building] dan {nation building] melainkan juga {capacity
building.] Birokrasi pendidikan di tingkat nasional perlu fokus pada
kebijakan yang strategis dan visioner serta tidak terjebak untuk
melakukan tindakan instrumental dan teknis seperti UAN/UNAS. Dengan
kebijakan otonomi daerah, setiap kabupaten perlu difasilitasi untuk
mengembangkan pendidikan berbasis masyarakat namun bermutu tinggi.
Pendidikan berbasis masyarakat ini diharapkan bisa menjadi lahan
persemaian bagi anak-anak dari berbagai latar belakang untuk mengenali
berbagai persoalan dan sumber daya dalam masyarakat serta terus mencari
upaya-upaya untuk mengubah masyarakat menjadi lebih baik.
Pendidikan masih dipercaya sebagai proses yang mampu memompa
tenaga produktif bangsa kita. Tenaga produktif (productive/pra’daktiv
force/fo:s) adalah suatu kemampuan masyarakat untuk menghasilkan suatu bentuk
tindakan dan produk-produk baik yang bersifat ekonomis-teknologis maupun
intelektualitas. Umumnya tenaga produktif masyarakat lebih banyak dikenal
sebagai ilmu pengetahuan dan teknologi. Ketika masyarakat semakin mengalami
kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, maka di dalamnya banyak individu
yang mendapat kemudahan hidup, kesejahteraan, dan kemudahan untuk
mengekspresikan kemanusiaannya. Dalam menghadapi perkembangan sosial tersebut,
UNESCO berusaha mengakomodasi tuntutan sosial pendidikan dengan menegaskan
pilar-pilar yang direkomendasikan dalam dunia pendidikan, yaitu:
learning/leuning to learn, learning to know, learning to do, learning to be,
learning to live together. Di Indonesia, pilar-pilar tersebut belum dapat
ditegaskan, bahkan dari sudut pandang wacana saja masih belum terdengar.
Padahal prinsip pendidikan tersebut sangat komprehensif dan jika dapat
diterapkan dengan benar dan konsisten akan mampu menjadikan anak didik menjadi
insan yang selain menguasai informasi dan ilmu pengetahuan juga memiliki
tanggung jawab moralitas bangsa Indonesia. Murid memang bukan hanya harus
memiliki pengetahuan, melainkan juga mampu menerapkannya dalam masyarakat.
Selain itu, mereka juga harus mampu melihat realitas terdalam. Dengan demikian,
mereka juga harus mampu terlibat langsung dalam masyarakat.
Sebagaimana terjadi setiap tahun, menjelang pergantian tahun
ajaran baru, isu pendidikan mahal kembali mencuat. Tentu saja pendidikan mahal
bukanlah suatu hal yang diinginkan oleh kebanyakan orang, terutama kalangan
masyarakat bawah. Bagi kalangan menengah ke atas, pendidikan mahal barangkali
bukanlah masalah, bahkan dianggap sebagai kewajaran karena mungkin itu tuntutan
globalisasi. ’’Mana mungkin bisa berkualitas kalau tidak mahal”, begitu kata
mereka. Pada kenyataannya, anak-anak konglomerat, memang jarang yang sekolah di
dalam negeri, yang dianggapnya ’’murahan’’, tetapi lebih senang sekolah di luar
negeri, atau sekolah dalam negeri yang tergolong elite dan berfasilitas enak
dan nyaman. Bagi kalangan ekonomi atas, anak para konglomerat dan pejabat, pendidikan
tentu saja bukan hanya untuk meningkatkan status ekonomi (mobilitas vertikal),
melainkan lebih bermakna sebagai prestise ataupun penegasan gaya hidup,
memperluas pengetahuan budaya untuk bisa sepadan dengan budaya Barat yang
dianggap sebagai patokan budaya dan peradaban. Persepsi budaya seperti ini bisa
kita lihat di kalangan artis-selebritis, sebuah representasi kaum kelas atas,
kalangan yang hidupnya diabdikan untuk merayakan ’’gaya hidup’’ (life skill)
sebagai cerminan kesadaran kelas ekonomi yang mendominasi. Berbeda dengan
mayoritas orang miskin yang dalam kesehariannnya harus menghadapi masa sulit
dalam memenuhi kebutuhan hidup. Bagi kalangan ekonomi bawah ini, pendidikan
bermakna bukan sekadar prestise sosial, melainkan lebih banyak sebagai alat
mobilisasi sosial ke atas, yaitu meningkatkan kecakapan agar menghasilkan
pendapatan ekonomi yang lebih baik. Pendidikan adalah untuk mengondisikan
tenaga berpengetahuan dan berketerampilan sebagai modal untuk dijual ke bursa
kerja sehingga akan mendapat penghasilan lebih dibanding orang yang tidak
berpendidikan dan yang hanya mengandalkan tenaga fisik, seperti buruh, tani,
dan lain-lain.
sumber: https://elqorni.wordpress.com/2013/06/29/dinamika-pendidikan-dalam-menghadapi-tantangan-global/ dan http://hariansinggalang.co.id/rekonstruksi-pendidikan-dalam-globalisasi/