Rabu, 10 Desember 2014

Algoritma dan Flowchart

Algoritma Penarikan Uang Tunai di Mesin ATM
  1. Telah  memiliki rekening di bank dengan fasilitas ATM.
  2. Pergi ke mesin ATM sesuai dengan rekening yang dimiliki.
  3. Siapkan kartu ATM.
  4. Masukkan kartu ATM ke mesin ATM.  
  5. Pilih bahasa yang akan digunakan dengan menekan tombol disampingya.
  6. Masukkan PIN ATM dengan benar, karena hanya mendapat kesempatan 3 kali kesalahan memasukkan PIN ATM. Jika 3 kali melakukan kesalahan, maka ATM akan diblokir sementara dan segera laporkan ke kantor bank sesuai dengan kartu ATM yang dimiliki.
  7. Pilih jenis transaksi yang ingin dilakukan.   
  8. Pilih bagian penarikan uang tunai.
  9. Memilih nominal uang yang akan diambil.
  10. Setelah memilih nominal uangnya, maka mesin ATM akan mulai bekerja mengeluarkan uang sesuai nominal yang dipilih.
  11. Mengambil uang pada mesin ATM.
  12. Pilih menu apakah akan melakukan transaksi kembali atau tidak, jika tidak maka segera ambil struk dan kartu ATM. 
 Flowchart Penarikan Uang Tunai di Mesin ATM


Algoritma Membuat Jus Alpukat
  1. Siapkan blender.
  2. Siapkan Buah alpukat yang sudah matang (ambil dagingnya saja).
  3. Siapkan Sirup vanilla, gula pasir yang sudah dicairkan, 5 sendok susu kental manis rasa cokelat, air matang, dan es batu.
  4. Masukkan daging buah alpukat ke blender.
  5. Masukkan juga sirup vanilla dan juga gula cair.
  6. Tambahkan juga es batu kotak kotak kecil.
  7. Blender semua hingga halus.
  8. Tambahkan gula jika kurang manis, tambahkan air jika terlalu manis.
  9. Tuang dalam gelas saji kemudian tambahkan susu kental manis.
  10. Sajikan selagi masih segar dan enak.
Flowchart Membuat Jus Alpukat


Penulis : Eka Widia Astuti

Senin, 01 Desember 2014

Pendidikan di Indonesia

Dibeberapa artikel atau tulisan yang saya temukan, dinamika pendidikan dikaitkan dengan kata pembaharuan, dinamika bisa juga diartikan sebagai perubahan yang berjalan. Pada situasi saat ini kita bisa melihat perubahannya, melalui media televisi contohnya adalah pendidikan di Indonesia, dimana hanya orang berada yang dapat mengenyam pendidikan hingga jenjang yang paling tinggi, sedangkan orang dari kalangan bawah hanya bisa melihatnya pasrah dengan perasaan sedih, karena mereka tidak dapat mengenyam pendidikan hingga jenjang yang paling tinggi. Padahal banyak sekali anak-anak dari kalangan bawah yang pandai dan cerdas, mungkin tingkat intelektual mereka bisa melebihi orang-orang berada. Namun dengan keterbatasan biaya, mereka tidak bisa mengembangkan apa yang mereka miliki, hingga mereka harus putus sekolah hanya karena soal biaya, dan lebih memilih untuk  membantu keuangan orang tua, seharusnya sebagai seorang anak mereka belajar dengan baik dan menggapai impian mereka, bukan mencari nafkah seperti yang sering kita lihat saat ini. Atau dapat dilihat dari perbedaan ruangan yang mereka gunakan untuk belajar, antara kalangan bawah dengan kalangan berada. Dalam dinamika globalisasi, masalah pendidikan pada hakekatnya merupakan usaha sadar manusia memberikan layanan sosial kepada masyarakat, sehingga memiliki kematangan, kedewasaan dan kecakapan hidup, baik dalam konteks aktualisasi diri maupun relasi dengan sesama warga negaranya. Anak-anak bangsa tercecer dalam berbagai sekolah yang beragam menurut latar belakang sosio ekonomi yang berbeda. Negara belum mampu memberikan kesempatan yang adil bagi semua anak bangsa untuk mendapatkan pendidikan yang bermutu. Sampai saat ini, belum tampak adanya pembenahan yang signifikan dan terpadu untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, dari tingkat pendidikan dasar sampai dengan tingkat pendidikan tinggi. Muncul pertanyaan besar: "Ke mana arah pendidikan di Indonesia?" Pendidikan dimaksudkan sebagai mempersiapkan anak-anak bangsa untuk menghadapi masa depan dan menjadikan bangsa ini bermartabat di antara bangsa-bangsa lain di dunia. Masa depan yang selalu berkembang menuntut pendidikan untuk selalu menyesuaikan diri dan menjadi lokomotif dari proses demokratisasi dan pembangunan bangsa. Pendidikan membentuk masa depan bangsa. Akan tetapi, pendidikan yang masih menjadi budak sistem politik masa kini telah kehilangan jiwa dan kekuatan untuk memastikan reformasi bangsa sudah berjalan sesuai dengan tujuan dan berada pada rel yang tepat. Dalam konteks globalisasi, pendidikan di Indonesia perlu membiasakan anak-anak untuk memahami eksistensi bangsa dalam kaitan dengan eksistensi bangsa-bangsa lain dan segala persoalan dunia. Pendidikan nasional perlu mempertimbangkan bukan hanya {state building] dan {nation building] melainkan juga {capacity building.] Birokrasi pendidikan di tingkat nasional perlu fokus pada kebijakan yang strategis dan visioner serta tidak terjebak untuk melakukan tindakan instrumental dan teknis seperti UAN/UNAS. Dengan kebijakan otonomi daerah, setiap kabupaten perlu difasilitasi untuk mengembangkan pendidikan berbasis masyarakat namun bermutu tinggi. Pendidikan berbasis masyarakat ini diharapkan bisa menjadi lahan persemaian bagi anak-anak dari berbagai latar belakang untuk mengenali berbagai persoalan dan sumber daya dalam masyarakat serta terus mencari upaya-upaya untuk mengubah masyarakat menjadi lebih baik.
Pendidikan masih dipercaya sebagai proses yang mampu memompa tenaga produktif bangsa kita. Tenaga produktif (productive/pra’daktiv force/fo:s) adalah suatu kemampuan masyarakat untuk menghasilkan suatu bentuk tindakan dan produk-produk baik yang bersifat ekonomis-teknologis maupun intelektualitas. Umumnya tenaga produktif masyarakat lebih banyak dikenal sebagai ilmu pengetahuan dan teknologi. Ketika masyarakat semakin mengalami kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, maka di dalamnya banyak individu yang mendapat kemudahan hidup, kesejahteraan, dan kemudahan untuk mengekspresikan kemanusiaannya. Dalam menghadapi perkembangan sosial tersebut, UNESCO berusaha mengakomodasi tuntutan sosial pendidikan dengan menegaskan pilar-pilar yang direkomendasikan dalam dunia pendidikan, yaitu: learning/leuning to learn, learning to know, learning to do, learning to be, learning to live together. Di Indonesia, pilar-pilar tersebut belum dapat ditegaskan, bahkan dari sudut pandang wacana saja masih belum terdengar. Padahal prinsip pendidikan tersebut sangat komprehensif dan jika dapat diterapkan dengan benar dan konsisten akan mampu menjadikan anak didik menjadi insan yang selain menguasai informasi dan ilmu pengetahuan juga memiliki tanggung jawab moralitas bangsa Indonesia. Murid memang bukan hanya harus memiliki pengetahuan, melainkan juga mampu menerapkannya dalam masyarakat. Selain itu, mereka juga harus mampu melihat realitas terdalam. Dengan demikian, mereka juga harus mampu terlibat langsung dalam masyarakat.
Sebagaimana terjadi setiap tahun, menjelang pergantian tahun ajaran baru, isu pendidikan mahal kembali mencuat. Tentu saja pendidikan mahal bukanlah suatu hal yang diinginkan oleh kebanyakan orang, terutama kalangan masyarakat bawah. Bagi kalangan menengah ke atas, pendidikan mahal barangkali bukanlah masalah, bahkan dianggap sebagai kewajaran karena mungkin itu tuntutan globalisasi. ’’Mana mungkin bisa berkualitas kalau tidak mahal”, begitu kata mereka. Pada kenyataannya, anak-anak konglomerat, memang jarang yang sekolah di dalam negeri, yang dianggapnya ’’murahan’’, tetapi lebih senang sekolah di luar negeri, atau sekolah dalam negeri yang tergolong elite dan berfasilitas enak dan nyaman. Bagi kalangan ekonomi atas, anak para konglomerat dan pejabat, pendidikan tentu saja bukan hanya untuk meningkatkan status ekonomi (mobilitas vertikal), melainkan lebih bermakna sebagai prestise ataupun penegasan gaya hidup, memperluas pengetahuan budaya untuk bisa sepadan dengan budaya Barat yang dianggap sebagai patokan budaya dan peradaban. Persepsi budaya seperti ini bisa kita lihat di kalangan artis-selebritis, sebuah representasi kaum kelas atas, kalangan yang hidupnya diabdikan untuk merayakan ’’gaya hidup’’ (life skill) sebagai cerminan kesadaran kelas ekonomi yang mendominasi. Berbeda dengan mayoritas orang miskin yang dalam kesehariannnya harus menghadapi masa sulit dalam memenuhi kebutuhan hidup. Bagi kalangan ekonomi bawah ini, pendidikan bermakna bukan sekadar prestise sosial, melainkan lebih banyak sebagai alat mobilisasi sosial ke atas, yaitu meningkatkan kecakapan agar menghasilkan pendapatan ekonomi yang lebih baik. Pendidikan adalah untuk mengondisikan tenaga berpengetahuan dan berketerampilan sebagai modal untuk dijual ke bursa kerja sehingga akan mendapat penghasilan lebih dibanding orang yang tidak berpendidikan dan yang hanya mengandalkan tenaga fisik, seperti buruh, tani, dan lain-lain.

sumber: https://elqorni.wordpress.com/2013/06/29/dinamika-pendidikan-dalam-menghadapi-tantangan-global/ dan http://hariansinggalang.co.id/rekonstruksi-pendidikan-dalam-globalisasi/

Kamis, 27 November 2014

SMAN 4 SUKABUMI annualvideo 2013



Diatas adalah sebuah annualvideo angkatan 2013 SMAN 4 Sukabumi yang bertujuan membuat sebuah dokumenter kecil, kelak ketika kita dijalan kehidupan masing-masing saat dewasa, kita masih dapat mengingat sebagian kecil teman-teman yang telah berpartisipasi membuat video ini, dan mengingat guru-guru SMAN 4 Sukabumi agar tak pernah terlupakan perjuangan mereka, memberi ilmu mereka kepada siswa-siswi yang mereka banggakan.

CERITA PUTIH ABU

Berawal masuk SMAN 4 Sukabumi perasaanku biasa saja, tidak merasa bangga, karena itu keinginan ayahku, tapi dibalik itu semua aku sangat bersyukur ternyata ada jalan yang mungkin sudah seharusnya aku berada di SMAN 4 melanjutkan pendidikan, mendapat teman baru, dan pengalaman. Banyak hikmah yang aku dapatkan dari keinginan ayah, aku melanjutkan pendidikan di SMAN 4. Saat masa orientasi siswa aku termasuk gugus 10.5 rasanya tak ada seorangpun yang aku kenal, setelah melewati beberapa hari mengikuti masa orientasi siswa, aku resmi duduk dibangku kelas 10.5, awalnya teman sebangku ku adalah Syarah, tapi aku merasa tidak nyaman dengannya untuk menjauh dari hal yang tak diinginkan aku pindah duduk bersama Rizki A. orangnya baik
tapi terkadang kita terlibat masalah juga namun tidak berujung dengan perkelahian karena kita perempuan, hanya tak saling banyak bicara saja. Setahun berlalu aku lewati likuk pikuknya hidup di kelas 10.5, penjurusan pun dilakukan awalnya aku ingin masuk jurusan ipa, tapi nyatanya aku harus memilih ips, karena begitu banyak yang memilih jurusan ipa. Pada akhirnya namaku tertulis di kelas 11 ips 3, sangat senang ternyata aku dan Rizki Amalia kembali satu kelas sampai kita duduk di kelas 12 ips 3, saat duduk di kelas 11 aku bertemu dengan seorang teman bernama Deasy Novianti, dia terlihat orang yang ramah,
baik, bawel, hehe. Aku sebagai sekretaris di kelas tersebut mengasikkan memiliki tanggung jawab sekaligus melelahkan ketika teman sekelas laki-laki banyak yang berkomentar bahwa aku tak bisa diajak kerja sama jika mereka izin atau tanpa alasan yang jelas. Pada bulan November aku dan Deasy menjalin persahabatan, disaat itu aku dipertemukan dengan Ayudhia Natasya yang jago dalam bernyanyi, bertemu dengan Tia Mutiara siswa pindahan dari SMAN 5 Sukabumi, bertemu Wilma Luana yang menjadi anggota osis saat itu. Senang selama 2 tahun aku bersama mereka, mengahadapi masalah bersama, tertawa bersama, bermain bersama, sedihpun bersama. Tak terasa waktu itu berlalu begitu cepat, masa-masa sekolah itu memang sangat menyenangkan penuh dengan cerita, terima kasih Rizki telah mengajarkan aku untuk lebih mengintropeksi diri, terima kasih Deasy mengajarkan aku arti persahabatan, terima kasih Ayudhia mengajarkan aku arti kekuatan, terima kasih Tia darimu aku dapat belajar arti kesabaran dalam menghadapi masalah yang begitu besar, terima kasih Wilma akupun belajar arti kesungguhan darimu. Yang paling terpenting adalah terima kasihku kepada guru-guru SMAN 4 Sukabumi, tanpa jasa guru-guru mungkin aku takkan bisa sampai disini.

Rabu, 26 November 2014

IBU

Ibu banyak pengorbanan yang engkau berikan untuk anak-anakmu, tak kenal lelah dan kau selalu berikan yang terbaik untuk ketiga anakmu, ibu terima kasih kau telah memberi cintamu secara utuh. membesarkanku dan mengajarkan arti kehidupan sebenarnya, ibu tidak ada kata-kata indah untukmu, tidak ada sekuntum bunga mawar atau sebuah hadiah spesial yang dapat aku berikan untukmu. Ibu hanya kata terima kasih hormat dan kasih sayangku yang tak terhingga untukmu yang dapat aku berikan saat ini. Ibu maafkan aku, jika aku selalu menyusahkanmu dan mengecewakanmu, aku takkan pernah lupakan pengorbananmu ibu. walaupun sesekali aku pernah melihat raut wajahmu yang mulai lelah, namun engkau masih bisa membuat orang disekitarmu tersenyum karenamu. Masih teringat kesalahanku ketika aku duduk dibangku sekolah menengah pertama, membuatmu menangis akan khawatir tentangku berada saat itu, maafkan aku ibu, aku tak ingin melihatmu menangis karenaku lagi, tetaplah tersenyum seperti saat ini, aku takkan mengulang kesalahan yang sama, engkau memang ibu yang tegar, kuat, dan baik. Aku selalu menyayangimu ibu, tetaplah menjadi bintang di hatiku yang selalu menerangi disaat gelap gulita, tetaplah menjadi matahari yang selalu menyinari bumi dengan hangat sinar ultra violetnya.

Writer : Eka Widia Astuti

Senin, 24 November 2014

AYAH

Ayah tak kalah banyak pengorbananmu dengan ibu, engkau adalah seorang ayah yang tangguh, tak pernah putus asa, selalu memberi yang terbaik untuk ketiga anakmu. Terkadang aku merasa kurang perhatianmu karena engkau terlalu sibuk mencari nafkah, tapi itu semua tak membuatku bersedih. Ayah telah aku rasakan betapa susahnya mencari uang hanya untuk sesuap nasi, menghadang angin malam dan air hujan yang begitu dingin, teriknya matahari begitu panas, sampai harus terkena marah orang lain, telah aku rasakan ayah ketika sekarang engkau saat itu dalam keadaan sakit yang membuatmu tak bisa berbuat apa-apa, ayah mungkin secara biologis aku sudah besar bisa mencari uang dengan keringatku sendiri, tapi adik-adikku yang masih kecil mana bisa berbuat hal yang sama seperti aku, ayah mereka masih membutuhkan ulur tanganmu, belaian kasih sayangmu, dan perhatianmu. Sekarang engkau dalam keadaan sehat, tetaplah jaga kesehatan aku berjanji ayah takkan pernah nakal seperti saat duduk dibangku sekolah menengah pertama, yang selalu saja membuatmu pusing dengan sikapku, aku akan buktikan pada ayah dan ibu, bahwa aku tak akan mengecewakan ayah dan ibu. Ayah sehatlah selalu, tanpa ayah keluarga ini merasa lemah, ayah adalah sumber yang sangat kuat untuk keluarga. Jasa-jasamu takkan pernah bisa aku balas ayah, aku akan memberikan yang terbaik untuk ayah dan ibu, ucapan terimakasihku mungkin takkan pernah cukup untuk membalas jasa ayah dan ibu. Maafkan aku, terlalu banyak kesalahan yang pernah aku perbuat, namun aku akan memperbaiki kesalahanku ayah, tetaplah menjadi tiang yang kokoh tak pernah rapuh oleh apapun ayah.  
Sumber ;  http://ekawidiaas.blogspot.com/